Opini

Ketika Mindfulness Jadi Kemewahan

Opini

Ketika Mindfulness Jadi Kemewahan

Belakangan ini ramai soal konten Maudy Ayunda tentang Mindfulness in the Age of Bad News. Intinya, di tengah banjir berita buruk, kita perlu belajar mengatur jarak. Tidak semua informasi harus masuk ke kepala dan hati kita setiap hari. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dari arus informasi yang tidak pernah habis itu. Semacam diet informasi, atau kalau mau disebut lebih populer, detox media sosial.

Saya kira gagasan itu masuk akal. Kita hidup di zaman ketika berita buruk datang tanpa jeda. Baru buka mata, sudah ada bencana. Belum selesai membaca satu masalah, muncul masalah lain. Apalagi ketika pidato “Kau Tahu Siapa” bersliweran di media sosial, potongan-potongannya muncul lagi dan lagi di layar. Bikin muak, memang. Algoritma seperti punya pekerjaan khusus untuk memastikan kita selalu tahu apa yang sedang terjadi di tempat lain.

Tapi, apakah kemampuan untuk mengambil jarak dari berita buruk itu juga sebuah privilege?

Bagi sebagian orang, berita buruk sebagai informasi. Ketika layar gadget ditutup, perhatian dialihkan, lalu hidup berjalan kembali. Lalalala.

Namun bagi yang lain, berita tersebut adalah kehidupan mereka. Tidak ada pilihan untuk menghindar.

Banjir, harga naik, keracunan MBG, karhutla, hutan yang dibabat, penyelewengan anggaran. Semua punya akibat yang jauh lebih panjang daripada durasi sebuah berita. Berpengaruh langsung ke kehidupan hari ini, esok dan seterusnya.

Saya teringat warga Pati yang beberapa waktu lalu datang ke Jakarta membawa tuntutan pemberantasan korupsi dan pengesahan RUU Perampasan Aset.

Bagi mereka, korupsi tidak hanya persoalan tata kelola yang dibahas di talkshow-talkshow televisi. Ada kehidupan di kampung halaman yang mereka bawa dalam tuntutan itu.

Sementara di Jakarta, persoalan yang sama bisa berubah menjadi berita, diskusi, unggahan media sosial, atau perdebatan kusir yang entah ke mana ujungnya. Masing-masing sibuk mempertahankan pendapat.

Kita lihat bersama. Ada jarak di sana. Jarak geografis yang ikut memengaruhi jarak emosional.

Kita bisa merasa memahami sebuah persoalan karena membaca banyak hal tentangnya. Padahal ada pengalaman yang hanya bisa dipahami ketika kita cukup dekat dengan kehidupan orang yang mengalaminya. Bahkan jika kita mengalaminya langsung.

Karena itu, ketika bicara tentang mindfulness, kita perlu juga berdiskusi terkait hal-hal terkait yang kadang luput menjadi pembahasan.

Kita sering mengatakan, “Saya mau disconnect dulu.”

Kalimat itu terdengar sederhana sampai kita menyadari bahwa ada orang yang tidak punya pilihan untuk menjauh. Bagi mereka, persoalan itu tidak berada di layar. Persoalan itu ada di depan mata.

Jadi, mengambil jarak dari berita buruk mungkin memang perlu. Kita perlu menjaga kepala tetap waras. Tapi setelah itu, ada pertanyaan yang menurut saya lebih penting:

Ke mana Jarak membawa kita?

Apakah kita kembali dengan pikiran yang lebih jernih dan hati yang lebih siap memahami keadaan? Atau kita justru menjadi semakin nyaman karena persoalan orang lain tidak lagi mengganggu kehidupan kita?

Akhirnya, setelah mendapat kritik, Maudy mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari berita merupakan sebuah privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika sebuah persoalan berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.

Buat saya, mungkin ini justru pelajarannya. Belajar merasakan apa yang dirasakan orang lain. Belajar lebih peka. Belajar lebih membuka hati lebih dalam. Karena kita tidak hidup di dunia yang hanya berisi pengalaman kita sendiri.

Justru di situlah mindfulness menemukan maknanya yang paling manusiawi.

Bagikan ini: