
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berbagi materi dalam kegiatan Konsinyasi Komunikasi DPMPTSP Provinsi DKI Jakarta, yang diikuti sekitar 70 peserta yang merupakan petugas UP PMPTSP dari berbagai wilayah. Sesi yang saya bawakan berjudul “Serba-Serbi Produksi Konten Media”.
Jujur, saya senang sekali bisa berproses bersama para peserta dalam sesi ini. Mendengar cerita mereka, memahami keresahan yang dihadapi ketika memproduksi konten di wilayah masing-masing, sekaligus melihat bagaimana mereka mencoba mencari solusi dari tantangan yang ada, menjadi pengalaman yang sangat berarti buat saya.
Sejak awal, suasana diskusi sudah cukup hidup. Peserta bercerita tentang pengalaman mereka, mengajukan pertanyaan, dan saling bertukar pandangan mengenai proses produksi konten di wilayah masing-masing. Dari situ, saya merasa bahwa sesi ini tidak bisa hanya berjalan satu arah. Saya berbicara, mereka mendengar. Mereka bercerita, saya pun ikut belajar.
Lalu, saya mengajukan satu pertanyaan yang menjadi pintu masuk pembahasan:
“Apakah dokumentasi kegiatan sama dengan konten?”
Pertanyaan ini bisa jadi terdengar sederhana. Sebab, dalam pekerjaan sehari-hari, kita sudah terbiasa mengambil foto atau video ketika ada rapat, pendampingan, sosialisasi, kunjungan, maupun kegiatan pelayanan lainnya. Setelah itu, dokumentasi tersebut diunggah ke akun media sosial wilayah. Beres.
Sebenarnya, memang tidak ada yang keliru dari proses tersebut. Namun, saya mengajak peserta melihat bahwa dokumentasi kegiatan sebenarnya baru merupakan bahan awal. Seperti bahan mentah yang masih bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bermakna.
Jadi dokumentasi adalah bahan baku. Sementara konten merupakan hasil olahan yang memiliki tujuan dan pesan untuk audiens. Gimana kita meracik bahan baku, itu yang penting.
Artinya, pekerjaan mengambil foto dan video hanyalah satu bagian dari proses produksi. Setelah itu, kita perlu untuk meramu lebih jauh, apa yang ingin disampaikan, siapa yang ingin diajak bicara, informasi apa yang penting, dan bagaimana kegiatan tersebut bisa dikemas agar lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat?
Mengolah Dokumentasi Menjadi Konten

Untuk mendiskusikan hal tersebut, peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka saya ajak untuk mengolah sejumlah contoh kegiatan menjadi konten yang dapat ditayangkan di akun media sosial wilayah.
Salah satu contohnya adalah dokumentasi rapat koordinasi UP PMPTSP. Kita tentu bisa membayangkan seperti apa foto rapat pada umumnya, yaitu beberapa orang duduk menghadap meja, sebagian melihat layar, sementara yang lain mungkin sedang mencatat.
Lalu, bagaimana foto seperti itu bisa menjadi konten yang lebih komunikatif?
Peserta kemudian saya ajak untuk melihat dan mencermati bahwa yang perlu ditampilkan lebih dari siapa saja yang hadir dalam rapat. Tapi apa yang sedang dibicarakan, mengapa rapat itu penting, dan apa manfaatnya bagi masyarakat. Ini yang perlu digarisbawahi. Sisi kebermanfaatan bagi masyarakat yang perlu dieksplorasi lebih lanjut.
Contoh lainnya adalah kegiatan pendampingan pelaporan LKPM di bar atau diskotik. Dari satu foto kegiatan, peserta diajak berpikir lebih jauh. Informasi apa yang bisa diangkat? Siapa audiensnya? Konteks apa yang perlu dijelaskan? Bagaimana kegiatan tersebut bisa dikemas menjadi sebuah komunikasi publik yang tidak menyalahi aturan?
Diskusi kelompok berlangsung seru. Peserta membahasnya dari berbagai sisi: kreativitas, aspek informasi, hingga etika komunikasi.
Beberapa pertanyaan bahkan muncul dari pengalaman mereka sendiri di lapangan. Saya senang, bahwa pembahasan terasa lebih dekat dengan pekerjaan sehari-hari. Sesuatu yang mereka hadapi langsung.
Ketika AI Masuk ke Ruang Produksi
Kami juga membahas contoh poster promosi layanan yang dibuat dengan bantuan AI. Dari sini, diskusi kemudian berlanjut pada pemanfaatan teknologi AI dalam produksi konten, sekaligus berbagai hal yang perlu diperhatikan ketika AI digunakan untuk komunikasi pemerintah.
Sebelum mengambil foto atau video, saya mengajak peserta memikirkan beberapa hal sederhana: tentukan tujuan, kenali audiens, cari momen terbaik, dan pilih format konten yang sesuai.
Kelihatannya sepele, tetapi hal-hal seperti ini sering kali terlewat. Kita terlalu sibuk merekam semua yang terjadi, sampai lupa menentukan bagian mana yang sebenarnya penting untuk diceritakan.

Padahal, kita tidak harus mengambil gambar sebuah kegiatan dari awal sampai akhir. Cukup pilih momen-momen yang memang mendukung cerita.
Pada bagian teknik produksi, saya juga membagikan satu hal yang menurut saya penting, yaitu person behind the “gun”. Istilah ini merujuk pada orang di balik kamera atau gawai yang digunakan.
Sebab, sebagus apa pun alat yang kita punya, hasilnya tetap bergantung pada siapa yang menggunakannya. Kamera mahal tidak otomatis menghasilkan gambar yang bercerita. Sebaliknya, dengan kamera sederhana atau smartphone yang ada di tangan, kita tetap bisa menghasilkan foto dan video yang menarik selama tahu bagaimana menangkap momen, memilih sudut pengambilan gambar, dan mengolahnya menjadi cerita yang relevan.
Kami kemudian membahas penggunaan wide shot, medium shot, dan close-up, termasuk pentingnya mencoba berbagai sudut pengambilan gambar. Hal-hal teknis seperti pencahayaan, kualitas audio, dan pemeriksaan ulang bahan setelah proses shooting juga tidak luput dari pembahasan.
Bagi saya, hal-hal semacam ini penting dibagikan karena tidak semua orang memiliki akses pada peralatan produksi yang lengkap. Sedangkan tidak sedikit juga yang berpikir bahwa mereka tidak mau memulai berkarya karena idak dilengkapi alat yang proper nan ciamik. Percayalah, bahwa keterbatasan alat itu adalah salah satu tantangan untuk kita bisa lebih mengeksplorasi kreativitas. Belajar naik kelas dari keterbatasan.
Menghumanisasi AI
Bagian lain yang kami bahas adalah kreativitas dengan AI. Memang saya akui teknologi ini bisa membantu proses brainstorming ide konten, menyusun draft hook dan caption, membuat storyboard sederhana, hingga membantu proses editing dan pembuatan subtitle.
AI memang bisa mempercepat pekerjaan. Bisa membantu ketika kita sedang kehabisan ide atau membutuhkan alternatif pendekatan dalam mengemas sebuah informasi.
Namun, tetap ada hal-hal yang membutuhkan manusia.
Karena yang berhadapan langsung dengan warga itu ya kita, bukan AI juga tidak merasakan bagaimana suasana pelayanan di sebuah wilayah. Bahkan AI tidak otomatis memahami karakter masyarakat, dinamika lapangan, atau persoalan yang sedang dihadapi warga.
Karena itu, hasil dari AI tetap perlu diperiksa, disesuaikan, dan diberi sentuhan manusia. Bahasa saya: menghumanisasi AI.
Di sinilah saya kira pengalaman lapangan menjadi penting. Sebab, konten yang baik lahir gabungan dari kemampuan mengoperasikan alat atau aplikasi serta juga dari kepekaan membaca situasi dan memahami orang-orang yang menjadi bagian dari cerita.
Diskusi berlanjut, kami juga membahas aspek etika dalam penggunaan AI. Peserta saya ajak untuk selalu memverifikasi informasi sebelum dipublikasikan, menghindari visual yang dapat menyesatkan, serta menghormati privasi dan data pribadi masyarakat.

Jika menggunakan ilustrasi AI, penggunaannya juga perlu disampaikan secara transparan agar publik tidak keliru menganggap visual tersebut sebagai dokumentasi nyata atau langsung.
Buat saya, kreativitas dalam komunikasi pemerintah tetap perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Kita boleh memanfaatkan teknologi untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi kepercayaan publik tetap harus menjadi sesuatu yang dijaga.
Pada akhirnya, sesi ini kembali membawa saya pada satu pemahaman sederhana: pekerjaan membuat konten tidak lantas selesai ketika kamera dimatikan atau ketika sebuah foto sudah diunggah ke media sosial.
Masih ada proses untuk memahami apa yang sedang kita komunikasikan, kepada siapa pesan itu ditujukan, dan bagaimana informasi tersebut bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Bagaimana pula feedback dari masyarakat.
Sehingga penting untuk kita dari mendokumentasikan kegiatan kemudian menjadikannya benar-benar membangun komunikasi.