Opini

Birokrasi dan Mereka yang Menunggu

Opini

Birokrasi dan Mereka yang Menunggu

Catatan kecil tentang prosedur, kepastian, dan wajah kemanusiaan dalam administrasi

Dikutip dari Sinar Jabar (13/1), awal tahun 2026 sejumlah Tenaga Harian Lepas (THL) di sebuah pemerintah daerah mengeluhkan honor yang belum juga dibayarkan sejak Desember 2025. Hingga pertengahan Januari, mereka masih menunggu kepastian kapan hak tersebut cair. Bahkan sebagian pegawai mengaku harus tetap bekerja seperti biasa, sementara pembayaran honor yang mereka tunggu belum juga jelas waktunya.

Pada tahun sebelumnya, dikutip dari Detik News (24/10/2025), persoalan yang hampir serupa juga dialami ribuan guru PPPK di Banten. Gaji mereka sempat terlambat karena penyesuaian anggaran dalam APBD daerah. Para guru tetap mengajar seperti biasa di kelas, tetapi kepastian atas hak mereka baru datang setelah proses administrasi dan anggaran selesai diperbaiki.

Selain soal keterlambatan pembayaran, kasus-kasus tersebut memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam tentang bagaimana birokrasi bekerja, dan bagaimana manusia sering kali harus menunggu di dalamnya.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari sudut etnografi komunikasi birokrasi. Dalam banyak organisasi, bahasa administrasi sering kali terdengar sangat rapi: verifikasi, penyesuaian dokumen, pembaruan kontrak, penyempurnaan prosedur. Kata-kata itu terdengar teknis, bahkan profesional. Tetapi di balik istilah-istilah tersebut selalu ada manusia yang sedang menunggu.

Birokrasi sebenarnya lahir dari satu gagasan yang sederhana: menciptakan keteraturan. Oleh karenanya, birokrasi hadir agar pekerjaan tidak berjalan semaunya, agar setiap proses memiliki jalur yang jelas. Tetapi dalam praktik sehari-hari, keteraturan kadang berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari yang dibayangkan. Dokumen bertambah, persyaratan diperbarui, dan prosedur menjadi semakin panjang.

Menariknya, bagi orang yang bekerja di dalam sistem tersebut, prosedur tidak selalu terasa sebagai sesuatu yang teknis. Prosedur justru menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari: apakah pekerjaan mereka dihargai dengan kepastian, atau justru harus menunggu tanpa tahu kapan semuanya selesai.

Saya melihat di situlah sebenarnya wajah moral sebuah organisasi mulai terlihat.

Karena setiap otoritas administratif selalu memiliki dua kemungkinan. Otoritas tersebut dapat menjadi jalan yang mempercepat sistem bekerja, mempermudah proses, dan memastikan semuanya berjalan tepat waktu. Tetapi otoritas yang sama juga dapat menjadi simpul yang memperpanjang jalannya menjadi kian ruwet. Rumit.

Keduanya mungkin sama-sama sah secara administratif. Tetapi tidak selalu sama secara kemanusiaan.

Dalam etika kerja yang sederhana, ada satu prinsip yang sering diingatkan sejak lama: hak yang sudah menjadi kewajiban orang lain sebaiknya tidak dibuat menunggu terlalu lama. Bukan hanya karena itu soal aturan, tetapi karena di balik setiap angka dalam sistem keuangan selalu ada kehidupan yang sedang berjalan: tagihan rumah, biaya sekolah anak, atau sekadar ongkos perjalanan untuk datang bekerja keesokan hari.

Mungkin karena itu, organisasi yang sehat biasanya tidak hanya diingat karena prosedurnya rapi, tetapi karena manusianya merasa diperlakukan dengan wajar.

Sebab pada akhirnya, birokrasi bukan sekadar sistem dokumen.

Birokrasi adalah cara sebuah institusi memperlakukan manusia yang bekerja di dalamnya. Karena itu, kepastian sering kali jauh lebih berarti daripada prosedur yang panjang dan penuh ketidakjelasan.

Bagikan ini: