Beberapa hari terakhir, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mulai serius membicarakan aturan baru terkait perlindungan anak di ruang digital. Wacananya cukup tegas: pembatasan akses anak terhadap platform digital tertentu, penguatan verifikasi usia, hingga kewajiban platform menyediakan ruang yang lebih aman bagi anak-anak.
Menurut keyakinan saya, di atas kertas, itu terdengar seperti langkah yang tepat.
Sebab kalau kita melihat keseharian hari ini, anak-anak memang sedang hidup di dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mungkin ini menjadi pemandangan yang sering kita lihat di tempat publik—rumah makan, misalnya—seorang anak duduk diam memegang gawai. Jempolnya bergerak cepat, matanya menatap layar tanpa berkedip. Di sekelilingnya, orang-orang dewasa berbicara tentang pekerjaan, tentang harga bahan pokok, tentang kemacetan Jakarta. Anak itu berada di ruang yang sama, tetapi hidup di dunia yang berbeda.
Dunia itu bernama layar, yang berada dalam genggamannya.
Di dalam layar, anak-anak menemukan banyak hal: hiburan, permainan, pengetahuan, bahkan mimpi-mimpi baru. Tetapi di sana pula mereka bertemu dengan sesuatu yang tidak selalu mereka pahami, yakni kemarahan orang dewasa, konflik politik, humor 18+, dan algoritma yang tidak mengenal usia.
Algoritma hanya mengenal perhatian, nir kasih sayang.
Semakin lama seorang anak menatap layar, semakin banyak “dunia” yang ditawarkan kepadanya. Masalahnya, “dunia” itu sering datang tanpa permisi. Tanpa konteks. Tanpa jeda. Enggak ada kesempatan untuk berpikir, bahkan. Hanya terus mengalir dan mengalir.
Negara perlu hadir. Aturan Komdigi yang sedang dibicarakan sebenarnya lahir dari kegelisahan yang sama: bagaimana melindungi anak-anak di tengah ruang digital yang bergerak terlalu cepat.
Namun, bagi saya, regulasi hanyalah salah satu bagian dari persoalan yang lebih besar.
Negara bisa saja membuat pagar. Negara bisa meminta platform memperketat sistem. Negara bisa memaksa perusahaan teknologi lebih bertanggung jawab.
Tetapi jangan pernah melupakan bahwa negara tidak bisa menggantikan relasi yang paling penting dalam kehidupan anak: hubungan dengan orang tuanya.
Sering kali kita terlalu mudah menyalahkan teknologi. Kita mengatakan anak-anak kecanduan gawai, terlalu lama aktif di media sosial, terlalu larut dalam permainan digital. Tetapi jika kita melihat lebih dekat, mengapa layar menjadi tempat yang begitu nyaman bagi mereka?
Barangkali karena layar digital selalu dianggap “hadir”.
Layar tidak pernah sibuk, tidak pernah lelah, tidak pernah mengatakan, “Nanti saja.”
Di banyak rumah hari ini, layar telah menjadi teman yang “paling setia” bagi anak-anak. Ketika orang tua bekerja sampai malam, ketika percakapan keluarga semakin jarang terjadi, ketika meja makan tidak lagi menjadi ruang cerita, layar datang sebagai pengganti kehadiran.
Itulah sebabnya saya memandang aturan Komdigi dengan dua perasaan sekaligus.
Di satu sisi, saya melihatnya sebagai langkah penting. Negara memang harus melindungi anak-anak dari ruang digital yang semakin liar. Platform teknologi tidak bisa dibiarkan bekerja hanya berdasarkan logika bisnis dan algoritma perhatian.
Tetapi di sisi lain, kita juga tidak boleh jatuh pada ilusi bahwa regulasi bisa menyelesaikan semuanya. Serius, ini omong kosong.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya tumbuh di dalam teknologi. Mereka tumbuh di dalam keluarga.
Perlindungan terbaik bagi anak bukan hanya akses digital yang dibatasi, tetapi hubungan yang hidup: percakapan yang hangat, waktu yang diberikan dengan sungguh-sungguh, dan orang dewasa yang hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.
Teknologi boleh terus berkembang. Regulasi boleh saja terus diperbarui. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang dari kehidupan anak-anak: manusia yang benar-benar mendengarkan mereka.
Jika tidak, kita mungkin akan melahirkan generasi yang sangat mahir menavigasi internet, tetapi kesulitan memahami perasaan orang lain.
Generasi yang tumbuh di dalam layar, tetapi tidak selalu merasa berada di dalam rumah. Generasi yang rindu kehangatan keluarga.
Sampai di sini jelas bahwa persoalannya bukan lagi tentang teknologi.
Namun tentang kita: orang-orang dewasa yang terlalu lama menyerahkan masa kecil anak kepada sebuah layar kecil di tangan mereka.