Opini

Puasa di Tengah Dentuman Rudal: Kematian Khamenei dan Retaknya Nurani Dunia

Opini

Puasa di Tengah Dentuman Rudal: Kematian Khamenei dan Retaknya Nurani Dunia

Puasa mengajarkan kita tentang menahan diri. Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah, bahkan menahan keinginan untuk merasa paling benar. Tetapi dunia, seperti biasa, tidak pernah benar-benar ikut berpuasa. Di saat jutaan orang merundukkan kepala di sajadah, menakar ulang dirinya di hadapan Tuhan, dentuman perang justru menggema lebih keras dari azan magrib.

Kabar itu datang seperti petir di siang bolong: Ali Khamenei dikonfirmasi tewas dalam serangan udara di Teheran pada akhir Februari 2026. Pemimpin Tertinggi Iran yang memegang kendali politik dan spiritual Republik Islam sejak 1989 itu gugur dalam eskalasi konflik besar antara Iran dan Amerika Serikat yang juga melibatkan Israel. Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional. Jalan-jalan di Teheran dipenuhi lautan manusia. Tangis, doa-doa, kemarahan, dan sumpah balas dendam bercampur menjadi satu.

Pukulan keras bagi Iran. Kematian seorang pemimpin dalam perang adalah retakan besar dalam arsitektur kekuasaan. Tidak hanya sebatas kehilangan figur belaka. Iran menganut struktur politik yang bersifat administratif sekaligus teologis. Pemimpin Tertinggi menjadi simbol legitimasi ideologis. Maka ketika tumbang oleh serangan militer asing, yang runtuh bukan hanya tubuh biologisnya, tetapi juga rasa aman kolektif sebuah bangsa. Kekosongan di sini menjadi lebih rawan.

Dalam konteks puasa, ini terasa ironis. Puasa melatih manusia untuk mengendalikan ego. Sebaliknya, perang justru lahir dari ego kolektif negara. Amerika berbicara soal ancaman dan stabilitas kawasan. Iran berbicara soal kedaulatan dan harga diri. Keduanya memakai bahasa keamanan. Tetapi di balik bahasa itu, selalu ada rakyat biasa yang harus membayar harga paling mahal: nyawa melayang sia-sia, rumah yang hancur, ekonomi yang runtuh, anak-anak yang tumbuh dengan trauma.

Dampaknya, harga minyak melonjak. Ketegangan di Selat Hormuz menggetarkan pasar global. Negara-negara bersiap menghadapi efek domino. Tetapi bagi saya, yang paling menggetarkan justru pertanyaan sederhana: apakah manusia benar-benar belajar dari sejarah? Atau kita hanya mengganti nama pemimpin, mengganti strategi militer, tanpa pernah mengganti cara pandang terhadap kemanusiaan? Apakah satu nyawa manusia sudah tidak lagi berharga?

Puasa seharusnya menjadi jeda. Jeda untuk tidak reaktif. Jeda untuk tidak membalas setiap luka dengan luka yang lebih dalam. Namun dalam logika geopolitik, jeda dianggap kelemahan. Menahan diri dianggap kekalahan. Maka yang terjadi adalah spiral: satu serangan dibalas serangan, satu kematian dibalas kematian, dan seterusnya hingga tak ada lagi yang benar-benar ingat siapa yang memulai.

Kematian Khamenei akan dikenang sebagai titik balik besar dalam sejarah Timur Tengah modern. Tetapi apakah ia akan menjadi awal dari rekonsiliasi atau justru bab baru dari perang panjang, itu tergantung pada apakah para pemegang kekuasaan mau belajar sesuatu yang sangat sederhana dari puasa: bahwa kekuatan terbesar adalah kemampuan menahan diri.

Dari sinilah refleksi kita sebagai manusia biasa menemukan tempatnya. Kita mungkin tidak duduk di ruang perang, tidak memegang tombol rudal, tidak menandatangani perintah operasi militer. Tetapi kita memegang sesuatu yang lebih sunyi dan sering diabaikan: nurani. Dalam dunia yang gemar memamerkan kekuatan, puasa mengajarkan kerendahan. Dalam dunia yang bising oleh propaganda, puasa mengajarkan keheningan.

Perang selalu tentang siapa yang lebih kuat. Puasa selalu tentang siapa yang lebih sadar. Dan di tengah berita kematian, ledakan, dan retorika balas dendam, mungkin yang paling kita butuhkan bukan sekadar analisis geopolitik, melainkan keberanian untuk bertanya: apakah dunia ini masih punya ruang untuk menahan diri?

Bagikan ini: