Opini

“Pengakuanku”: Lagu yang Tidak Meninggikan Suara, tapi Meruntuhkan Ego

Opini

“Pengakuanku”: Lagu yang Tidak Meninggikan Suara, tapi Meruntuhkan Ego

Di bulan Ramadan, kita sering sibuk dengan yang terdengar: ceramah yang lantang, takbir yang menggema, perdebatan yang ramai di linimasa. Tetapi ada satu jenis suara yang jarang kita beri ruang. Suara yang pelan, yang nyaris berbisik, yang tidak menggurui. Lagu Pengakuanku yang dipopulerkan oleh Haddad Alwi adalah salah satu suara itu. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Lagu ini tidak datang dengan gebyar. Tetapi justru di situlah kekuatannya: ia seperti duduk di samping kita, bukan berdiri di podium.

Sejak pertama kali mendengarnya, saya selalu merasa lagu ini bukan tentang Tuhan terlebih dahulu. Ia tentang “aku”. Tentang keberanian mengatakan: saya tidak sempurna.

Dalam versi yang juga menghadirkan warna suara Danilla Riyadi, ada satu bagian lirik yang terasa seperti doa yang sangat jujur:

“Oh Tuhan, tak pandai aku berharap
Hanya tersisa takut bila Kau menjauh
Terimalah diriku dengan segala kurang
Karena pada-Mu akhirnya ‘ku akan pulang.”

Empat baris itu maknanya sangat dalam. Ini bukan doa orang yang merasa saleh. Tapi doa dan harapan dari orang yang sadar dirinya rapuh.

Kalimat “tak pandai aku berharap” adalah bentuk kerendahan hati yang jarang kita dengar dalam bahasa religius hari ini. Banyak doa kita dipenuhi permintaan: rezeki, kesuksesan, kesehatan. Tetapi dalam lirik ini, yang muncul justru kesadaran bahwa manusia bahkan tidak pandai berharap dengan benar.

Lalu ada kalimat yang menurut saya paling menyentuh: “hanya tersisa takut bila Kau menjauh.”


Ketakutan di sini bukan ketakutan akan hukuman. Ia adalah ketakutan eksistensial, takut kehilangan kedekatan dengan Tuhan. Dalam tradisi spiritual, rasa takut kehilangan Tuhan justru menjadi tanda cinta.

Baris berikutnya membawa kita pada inti pengakuan itu:

“Terimalah diriku dengan segala kurang.”

Ini adalah bentuk kerendahan diri yang paling manusiawi. Bukan datang kepada Tuhan dengan kesempurnaan, tetapi dengan kekurangan yang diakui.

Ini salah satu gongnya:

“Karena pada-Mu akhirnya ‘ku akan pulang.”

Di situlah makna terdalamnya: pulang.

Bagi saya pribadi, lagu ini punya makna yang sangat personal. Saya memutarnya berkali-kali, terutama di momen-momen sunyi Ramadan. Setiap kali lagu itu berputar, rasanya seperti melabuhkan perasaan ke sebuah ruang yang tenang. Ruang di mana ego pelan-pelan diruntuhkan.

Ada saat-saat dalam hidup ketika manusia terlalu penuh oleh dirinya sendiri: oleh ambisi, oleh kesibukan, oleh pembenaran-pembenaran kecil yang kita bangun untuk merasa tetap benar. Lagu ini, dengan cara yang lembut, seperti mengajak kita meletakkan semua itu.

Mendengarnya berulang-ulang terasa seperti duduk sebentar di hadapan diri sendiri. Tidak ada yang perlu dibela. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Hanya ada kesadaran sederhana: bahwa manusia selalu punya jalan pulang.

Ketika Abi menyanyikan lagu ini, kita merasakan ketenangan dan kenangan masa lampau, suara yang mengingatkan pada doa-doa lama yang diwariskan turun-temurun. Ketika Danilla ‘mewarnainya’, nuansanya terasa lebih personal, lebih rapuh, seolah seseorang sedang berbicara dalam kesunyian kamar. Mewakilkan keresahan dan kegundahan masa kini.

Pertemuan dua warna suara itu membuat “Pengakuanku” terasa seperti dialog antara iman yang mapan dan iman yang sedang mencari. Pertemuan yang sederhana, pertemuan yang tidak menggurui.

Di tengah Ramadan yang sering dipenuhi simbol-simbol kesalehan, lagu ini justru menghadirkan kesalehan yang paling sederhana: mengakui bahwa kita tidak sempurna, tetapi tetap ingin kembali kepada Tuhan—kembali pada hati yang lebih bersih.

Bagikan ini: