Opini

Mengajarkan Rasa Hormat, Bukan Cuma Mengisi Perut

Opini

Mengajarkan Rasa Hormat, Bukan Cuma Mengisi Perut

Pemerintah Inggris baru saja mengumumkan rencana memasukkan pelajaran cara menghormati perempuan ke dalam kurikulum sekolah. Menurut saya, ini adalah sebuah langkah progresif untuk menekan laju kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dalam kurikulum ini anak laki-laki akan diajak sejak dini memahami batas, persetujuan (consent), relasi yang setara, dan bagaimana menjadi manusia yang tidak melukai tubuh dan martabat orang lain. Di sana, negara masuk ke wilayah etika relasi, sikap terhadap perempuan, dan cara menjadi manusia yang tidak kejam. Pemerintah Inggris berharap, melalui program ini, remaja laki-laki tidak tumbuh menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari.

Langkah ini lahir dari kesadaran pahit bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan ini makin lama kian memprihatinkan. Kekerasan terhadap perempuan tidak muncul tiba-tiba di ruang gelap, melainkan dibentuk lama oleh budaya, bahasa, dan cara kita “memandang” tubuh orang lain.

Dalam upaya menyelesaikan permasalahan kekerasan terhadap perempuan, Inggris memilih masuk ke akarnya: sekolah. Sementara itu, di Indonesia, ketika kita berbicara sekolah, hal sering kita bahas adalah tentang: akses pendidikan yang belum merata, gedung sekolah yang bocor di sana sini, ruang kelas yang ambruk, dan guru yang digaji minim untuk pekerjaan seberat membentuk dan membangun manusia. Di banyak daerah, guru honorer hidup di antara dedikasi dan utang. Di saat yang sama, laporan tentang kekerasan di sekolah, dari perundungan sampai pelecehan seksual terus bermunculan. Sekolah sebagai ruang yang seharusnya menjadi tempat aman justru sering menjadi ruang anak mengenal ketakutan.

Ironisnya, menurut keyakinan saya, kegelisahan semacam itu jarang menjadi pusat perhatian negara. Negara lebih sibuk mendorong Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai proyek raksasa. Pandangan bahwa anak harus makan, tentu, tidak salah. Perut kosong memang menyulitkan belajar. Tetapi pendidikan tidak berhenti pada urusan makan saja, bosku. Sekolah bukan pabrik kalori. Ia adalah ruang tempat cara berpikir, cara merasa, dan cara kita memperlakukan sesama dibentuk.

Di Inggris, negara fokus pada bagaimana anak laki-laki memandang perempuan. Sedangkan, di Indonesia, negara lebih sibuk memastikan menu di piring.

Perbedaan ini tentunya tidak pada soal memilih antara gizi atau etika. Yang dipertaruhkan adalah keberanian negara menentukan apa yang dianggap paling menentukan masa depan. MBG bisa membuat anak kenyang. Oke. Namun anak yang kenyang tetap bisa tumbuh menjadi pelaku kekerasan, pembenci perempuan, atau manusia yang merasa berhak atas tubuh orang lain, jika sekolah gagal mengajarkan empati dan rasa hormat.

Yang lebih menyakitkan, MBG dijalankan di atas sistem pendidikan yang rapuh. Banyak sekolah bahkan belum layak secara fisik. Banyak guru masih bertahan dengan gaji yang bikin malu ngecek rekening. Sulit membayangkan kurikulum apa pun, tentang karakter, tentang relasi, tentang kemanusiaan, bekerja di ruang yang tidak memberi rasa aman dan martabat bagi para pendidiknya.

Saya salut dengan pemerintah Inggris, dengan segala keterbatasannya, mencoba masuk ke wilayah yang tidak populer: membentuk cara anak-anak memandang perempuan. Sedangkan Pemerintah Indonesia masih terjebak pada logika bahwa memberi makan lebih penting daripada membenahi cara berpikir.

Saya jadi bertanya-tanya sama Negara ini, apakah kita serius fokus membangun generasi, atau hanya menunda persoalan dengan piring yang terisi?

Saya percaya bahwa anak yang dihormati akan belajar menghormati.
Maka, sangat disayangkan negara hari ini terjebak hanya urusan makan, bukan urusan memanusiakan.

Bagikan ini: