Jakarta pagi ini tak hentinya diguyur hujan deras. Langit abu-abu seakan menandakan bahwa hujannya akan awet sepanjang hari. Di Jakarta macet adalah rutinitas, Tambah aduhai ketika hujan turun di jam berangkat kerja. Sedangkan saya berjibaku menembus jalanan Jakarta, di antara klakson, lampu rem yang memantul di aspal basah, dan antrean kendaraan yang bergerak lebih lambat dari langkah orang berjalan kaki. Kalau sudah begini, marah-marah dan emosi hanya buang-buang energi saja. Enggak akan ngebuat jalanan Jakarta tetiba lengang juga, kan!
Jalanan Jakarta tumbuh dari waktu ke waktu mengikuti denyut kota yang terus berubah. Dari lorong-lorong sempit Batavia hingga boulevard lebar di jantung kota hari ini, jaringan jalan di Jakarta merekam perjalanan panjang sebuah kota pelabuhan yang beralih menjadi pusat politik, ekonomi, dan mobilitas terbesar di Indonesia. Setiap lapisan aspal menyimpan jejak kebijakan, teknologi, dan cara manusia bergerak di dalam ruang urban yang terus bergerak maju.
Pada abad ke-19, Batavia mulai mengenal sistem transportasi yang lebih teratur. Trem bertenaga kuda mulai beroperasi pada 1869, disusul trem uap pada 1882. Kehadirannya menandai bahwa kota ini sudah memikirkan mobilitas massal jauh sebelum mobil pribadi menjadi simbol modernitas. Jalan-jalan kala itu melayani pergerakan manusia, hasil bumi, dan komoditas kolonial. Ritme kota masih sejalan dengan kapasitas ruang yang tersedia.
Setelah kemerdekaan, Jakarta bergerak cepat meninggalkan bentuk lamanya sebagai kota kolonial. Negara membangun arteri-arteri baru untuk menyatukan pelabuhan, pusat pemerintahan, dan kawasan bisnis yang berkembang. Jalan Bypass yang dibuka pada 1963 memperlihatkan perubahan cara pemerintah memandang jalan sebagai tulang punggung ekonomi. Pada saat yang sama, mobil pribadi mulai masuk ke kehidupan kelas menengah. Lalu lintas yang sebelumnya relatif lengang mulai menunjukkan kepadatan, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Pada pertengahan 1960-an, antrean kendaraan di ruas-ruas utama mulai menjadi pemandangan yang berulang. Saat itu, Jakarta sedang berada di ambang perubahan: jumlah kendaraan tumbuh, sementara jaringan jalan masih terbatas. Yang dirasakan adalah ruang bergerak mulai terasa menyempit.
Tekanan itu meningkat tajam pada 1980-an hingga 1990-an ketika Jakarta dan wilayah sekitarnya melebar sebagai kawasan metropolitan. Perumahan warga dibangun jauh dari pusat kota. Kawasan industri dan perkantoran menyebar, dan jutaan orang menjadi komuter harian. Studi para peneliti transportasi di Jakarta (2007) menunjukkan bahwa bahwa kepemilikan mobil dan sepeda motor meningkat jauh lebih cepat dibanding ketersediaan dan mutu angkutan umum. Kota bergerak mengikuti ritme kendaraan pribadi, sementara sistem transportasi massal tertinggal.
Ketidakseimbangan itu membuat kemacetan berubah menjadi kondisi menetap. Menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Jakarta dikenal sebagai salah satu kota dengan lalu lintas terpadat. Waktu tempuh membengkak, energi terbuang, dan produktivitas tersedot di antara lampu merah dan kemudi yang tak bergerak.
Berbagai kebijakan kemudian muncul. Pembatasan kendaraan di jalan protokol diperkenalkan pada awal 1990-an, disusul peluncuran TransJakarta pada 2004 sebagai upaya menghadirkan kembali transportasi massal. Pada 2010-an, pembatasan berbasis pelat nomor diterapkan, dan jaringan rel perkotaan mulai dibangun dengan lebih serius.
MRT Jakarta beroperasi pada 2019, penanda kota memasuki babak baru. Pergerakan warga tidak sepenuhnya bertumpu pada aspal. Rel dan stasiun menghadirkan kemungkinan lain tentang cara bergerak di dalam kota. Pada periode yang sama, Jakarta juga mulai mengoperasikan LRT Jakarta, disusul LRT Jabodebek yang menghubungkan ibu kota dengan kota-kota satelit di sekitarnya. Kehadiran sistem rel ringan ini menandai fase baru pembangunan transportasi perkotaan, ketika pemerintah tidak lagi hanya mengelola kemacetan di jalan, tetapi mulai membangun jaringan mobilitas yang terintegrasi lintas wilayah.
Di luar masih turun hujan. Di balik genangan dan antrean kendaraan, sejarah panjang jalanan Jakarta terus berdenyut. Macet yang kita hadapi adalah hasil dari puluhan tahun pilihan pembangunan, pertumbuhan, dan cara kita memaknai bergerak di dalam sebuah kota yang tak pernah berhenti berlari.
Referensi Bacaan
Susilo, Yusak O., Tri Basuki Joewono, Wimpy Santosa, dan Danang Parikesit. 2007. A Reflection of Motorization and Public Transport in Jakarta Metropolitan Area. IATSS Research.
Jakarta Smart City. 2021. Transportasi Jakarta dari Masa ke Masa.
ITDP Indonesia. 2019. 15 Tahun TransJakarta.
KompasPedia. 2020. Sejarah Moda dan Regulasi Transportasi Umum di Jakarta.
MRT Jakarta. 2019. Sejarah MRT Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta. 2024. Perkembangan Transportasi DKI Jakarta.
Reuters. 2024. Indonesia kicks off Japan-funded expansion of capital’s train network.
Now Jakarta. 2018. The Evolution of Jakarta’s Transport.
Academia.edu. 2015. The Greater Jakarta Area Commuters Travelling Pattern.
ResearchGate. 2022. Moving a Nation: The Evolution of Public Transit in Indonesia.