Kabar duka di dunia maya jarang benar-benar hadir sebagai duka. Kabar ini hampir selalu datang sebagai konten. Sebagai unggahan. Sebagai potongan informasi yang langsung masuk ke dalam arus notifikasi, sejajar dengan iklan, lelucon, dan gosip.
Sehingga, duka kehilangan konteks emosionalnya, menjadi sesuatu yang bisa direspons cepat: diberi komentar, ditanggapi, dibagikan, bahkan diperdebatkan.
Secara etika komunikasi, ini menarik sekaligus mengkhawatirkan. Media sosial bekerja dengan logika partisipasi, semua orang merasa perlu merespons, merasa punya hak untuk bicara. Masalahnya, tidak semua situasi harus ditanggapi dalam keramaian. Ada peristiwa yang justru membutuhkan keheningan.
Kabar meninggalnya seseorang, misalnya, sering segera berubah menjadi diskusi sebab-akibat. Orang bertanya: sakit apa, telat ditangani atau tidak, siapa yang salah, apa pelajarannya. Dengan begini, duka kolektif bergeser menjadi ruang analisis publik.
Secara tidak sadar, kita memperlakukan kematian sebagai objek komunikasi. Pengalaman manusia menjadi tidak lagi ada artinya di sini. Alur informasi menjadi lebih penting dibandingkan rasa kehilangan. Empati tergantikan dengan kecepatan kita merespon.
Dalam etika komunikasi, ada prinsip sederhana yang sering kita lupakan, bahwa tidak semua yang bisa dikomunikasikan perlu dikomunikasikan. Ada waktunya kita meredamnya, kemudian membuka ruang kontemplasi, membuka diri, menguatkan rasa.
Saat ini, kesadaran kita terseret, ruang digital membuat kita terbiasa menjadi komentator atas hidup orang lain, termasuk pada momen paling rapuhnya. Kita lupa bahwa ada orang-orang yang sedang berduka secara nyata, sementara kita sibuk “bermain makna” di dunia maya.
Mungkin, kita memang sudah berbusa soal literasi media, tapi kurang banyak di literasi empati. Kita tahu cara menulis, cara mengutip, cara berpendapat. Tapi, apakah kehadiran kita di percakapan ini benar-benar dibutuhkan? Gimana hati nurani digunakan dalam merespon setiap percakapan yang hadir di ruang digital?
Etika bermedia sosial pada akhirnya menyangkut cara kita menempatkan diri ketika berhadapan dengan peristiwa yang melibatkan hidup orang lain.
Di hadapan kabar duka, saya justru percaya pada keheningan. Pada sesuatu yang berjarak. Pada kesediaan untuk tidak selalu ikut hadir di percakapan.
Ada momen yang cukup kita terima sebagai momen kehilangan, momen berduka, tanpa harus segera kita jadikan gimmick konten.