Saya tidak menonton Mens Rea di Netflix dengan perasaan ingin membela Pandji. Ada bagian yang bisa diperdebatkan, dikritik, bahkan tidak saya setujui. Tapi justru karena itu, saya merasa aneh ketika sebagian orang memilih membawa pertunjukan ini ke kantor polisi.
Bukan karena Pandji kebal kritik, tapi karena kita seolah lupa satu hal sederhana: tidak semua yang membuat kita tidak nyaman bisa kita laporkan sebagai sebuah tindak pidana.
Menurut keyakinan saya, pelaporan terhadap Mens Rea terasa seperti respons khas zaman ini: ketika tersinggung, kita tidak berdiskusi, tapi mencari pasal. Ketika marah, kita tidak berdebat, tapi minta negara turun tangan. Seolah ruang publik terlalu rapuh untuk menampung perbedaan tafsir, sehingga harus segera diamankan lewat hukum. Ini lebih lucu dari komedi sih!
Menariknya, sebagian pelapor mengklaim membela moral, agama, atau ketertiban sosial. Tapi di balik itu, yang tampak justru kecemasan terhadap satu hal yang lebih mendasar: takut terhadap wacana yang berbeda dari pikiran kita.
Komedi, sejak awal, memang tidak pernah dirancang untuk nyaman. Ia lahir dari keresahan, dari kegalauan, dari ketegangan. Kalau setiap kegelisahan harus dilaporkan, maka yang tersisa bukan masyarakat yang tertib, tapi masyarakat yang mudah panik.
Ironisnya, pelaporan ini justru memperkuat apa yang ingin Pandji Kritik dalam Mens Rea itu sendiri: bahwa kita semakin sulit membedakan antara kritik dan serangan, antara perbedaan dan penghinaan. Segalanya dibaca sebagai ancaman.
Saya membayangkan kalau logika ini diterapkan secara konsisten. Bukan cuma komika yang bisa dilaporkan, tapi juga penulis, dosen, seniman, bahkan ucapan orang tua di meja makan. Karena hampir semua percakapan jujur berpotensi menyinggung.
Masalahnya bukan pada Pandji. Tapi pada kita yang mulai percaya bahwa ketertiban sosial harus dijaga dengan membungkam ketidaknyamanan, bukan dengan mengelolanya.
Padahal demokrasi tidak pernah menjanjikan rasa aman emosional. Demokrasi menjanjikan: hak untuk berbeda tanpa harus takut dikriminalkan.
Repotnya, ketika kita mulai memakai hukum untuk mengatur perasaan, yang sebenarnya kita laporkan bukan komedi, tapi ketidakmampuan kita hidup di tengah perbedaan.
Padahal sejatinya tidak ada yang tahu kita akan hidup sampai kapan. Artinya, kita hidup dengan ketidaknyamanan tentang: masa depan. Jadi, kenapa harus lapor lapor soal ketidaknyamanan karena perbedaan cara pandang?
Ryan A. Syakur 26.01.26