Beberapa waktu terakhir ini saya mendengar kembali cerita tentang tuyul dari teman sekantor. Dengan nada serius bercampur tawa, ia bercerita tentang uang yang sering hilang di rumahnya, lalu menambahkan, “Kayaknya ada tuyul deh.” Katanya, sempat ada rencana mau “ngasih yuyu” supaya tuyulnya betah, tapi yuyunya keburu mati ketika di jalan menuju rumah.
Cerita itu makin dikuatkan ketika ia bilang istrinya pernah melihat dua tuyul kecil, cuma pakai celana dalam, digandeng seorang ibu. Di lingkungan rumahnya, katanya, bukan cuma mereka yang kehilangan uang, tapi beberapa tetangga juga mengalami hal serupa. Dari situ, cerita tuyul tidak lagi berdiri sebagai pengalaman personal, tapi berubah menjadi narasi kolektif yang saling menguatkan.
Tentu saya tidak langsung percaya ada makhluk botak berkeliaran di rumah orang. Tapi saya menyimak ceritanya dengan seksama. Sambil mikir, sebagai makhluk botak, saya sepertinya tidak pernah berkeliaran di rumah orang tanpa izin, apalagi sampai mengambil uang orang.
Hal yang menarik dari cerita ini bukan soal ada atau tidaknya tuyul, melainkan bagaimana cerita ini bekerja sebagai sebuah narasi. Tuyul bukan sekadar makhluk gaib, melainkan bahasa sosial untuk menjelaskan kehilangan yang tidak bisa kita jelaskan secara rasional melalui kata-kata. Bahkan, ia muncul bukan di ruang ritual, tapi di ruang kerja modern, melebur di antara deadline kerjaan, laporan, dan obrolan makan siang. Ia “ada” di sekitar kita, bahkan “dekat” dengan kita.
Ketika Cerita Menjadi Bahasa
Menariknya, mitos seperti tuyul dan yuyu hidup subur di ruang komunikasi informal kita: warung kopi, pos ronda, obrolan keluarga, di ojek online, bahkan saat makan siang di kantor. Dalam studi komunikasi, ini sering disebut sebagai folk communication, suatu bentuk komunikasi rakyat yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari, diwariskan secara lisan, dan tidak pernah tercatat secara resmi.
James W. Carey dalam bukunya Communication as Culture (1989) menyebut komunikasi bukan sekadar transmisi informasi saja, namun merupakan proses ritual membangun makna bersama. Dalam logika ini, tidak penting mempersoalkan cerita tuyul ini benar atau tidak, tapi karena membuat orang merasa masuk akal dengan kegelisahannya. Ia menjadi bahasa bersama untuk menjelaskan rasa kehilangan yang sulit diartikulasikan secara rasional.
Sementara itu, Dell Hymes dalam ethnography of communication mengingatkan bahwa komunikasi tidak bisa hanya dipahami sebagai kata-kata yang keluar dari mulut, melainkan sebagai tindakan sosial yang selalu terikat pada konteks budaya, nilai, dan kebiasaan komunitas tempat percakapan itu terjadi.
Mitos sebagai Bahasa Alternatif
Hal yang sama juga terjadi pada yuyu, kepiting air tawar yang dihembuskan narasi mistis terkait pesugihan. Dalam berbagai cerita Jawa dan Betawi, yuyu kerap muncul sebagai simbol kerakusan: makhluk kecil yang terus makan, diam-diam, tapi tak pernah merasa cukup. Kalau tuyul digambarkan mencuri uang, yuyu lebih sering hadir sebagai simbol ketamakan yang secara perlahan menggerogoti hidup. Keduanya bekerja dalam ruang yang sama: wilayah abu-abu antara kepercayaan, kecemasan ekonomi, dan imajinasi kolektif.
Sampai sini saya melihat satu pola yang sangat khas Indonesia: kita sering menggunakan cerita simbolik untuk membicarakan hal-hal yang sulit diungkapkan secara langsung. Misalnya, jika bicara soal kemiskinan terasa terlalu berat, maka kita bicara soal pesugihan. Bicara soal kecemburuan sosial terasa terlalu sensitif, maka kita bicara soal ilmu hitam. Bicara soal kegagalan finansial terasa memalukan, maka kita bicara soal tuyul. Mitos dihadirkan sebagai bahasa alternatif ketika bahasa rasional terasa terlalu “telanjang”.
Dalam konteks keluarga, saya melihat mitos berfungsi sebagai kontrol sosial. Anak-anak ditakut-takuti dengan cerita tuyul biar tidak iseng mengambil uang tanpa izin di rumah. Orang dewasa diingatkan cerita yuyu agar tidak serakah. Sehingga mitos bukan hanya cerita horor atau menyeramkan, tapi mekanisme untuk mengomunikasikan nilai-nilai: tentang batas, tentang etika, tentang konsekuensi. Ia bekerja seperti dongeng, dengan nada yang lebih gelap.
Menjadi lebih kompleks di era digital, mitos tidak mati, tapi bermigrasi. Dulu kita mendengar cerita tuyul secara lisan, sekarang cerita ini tumbuh di Instagram, TikTok, dan YouTube. Bentuknya berubah, tapi logikanya tetap sama: kita butuh cerita untuk menggambarkan kecemasan hidup. Bedanya, sekarang ia dikemas dengan visual, algoritma, dan clickbait. Ketakutan kita tidak lagi diwariskan dari mulut ke mulut saja, tapi dari feed ke feed.
Hadirnya tuyul dan yuyu dalam keseharian menjadi cermin cara kita berkomunikasi sebagai bangsa. Kita gemar metafora, simbol, dan cerita. Kita jarang blak-blakan bicara soal struktur ekonomi, ketimpangan, atau tekanan hidup . Kita lebih nyaman membungkusnya dalam narasi mistis. Bukan karena kita bodoh, tapi karena kita manusia yang selalu butuh cerita untuk bertahan hidup.
Maka bagi saya, tuyul dan yuyu tidak perlu dibuktikan secara ilmiah untuk dianggap penting. Mereka penting karena hidup di kepala kita, di percakapan kita, dan dalam cara kita menjelaskan dunia. Mereka adalah arsip emosi kolektif kita tentang rasa takut kehilangan, keinginan kaya yang instan, serta kecemasan akan hidup yang terasa makin tak terkendali.
Mungkin yang benar-benar perlu kita takuti bukanlah tuyul yang mencuri uang, tapi ketidakmampuan kita berkomunikasi jujur tentang rasa cemas, gagal, dan tidak aman. Karena selama kita masih butuh tuyul untuk menjelaskan masalah hidup, berarti ada sesuatu dalam realitas yang belum sanggup kita bicarakan apa adanya.
Karena bisa jadi, yang paling rajin mencuri bukan makhluk gaib, tapi struktur hidup yang membuat kita terus merasa kurang, cemas, dan tidak pernah benar-benar aman.