Cerita Harian

Di Antara Nada Gamelan dan Langit Fribourg

Cerita Harian

Di Antara Nada Gamelan dan Langit Fribourg

Melihat konten-konten video tentang Swiss di Instagram, ingatan saya melayang ke setahun lalu. Fribourg menyambut kami dengan udara dingin yang jujur dan langit yang seolah tak pernah lelah memantulkan warna. Kota kecil di Swiss ini terasa rapi, tertib, dan tenang. Di ruang yang begitu hening itu, gamelan Bali berbunyi mengiringi tarian, mewarnai Fribourg.

Kami diundang datang ke Rencontres de Folklore Internationales de Fribourg bukan hanya untuk tampil. Sejak di Jakarta, prosesnya sudah dimulai: saya berlatih bersama tujuh penggamel senior dan para penari PPST Kencana Mas. Bagi saya, berada di ruang latihan bersama mereka adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar bahwa menjadi penggamel bukan cuma soal hafal pola, tapi soal kepekaan membaca orang lain: membaca gerak penari, membaca “nafas” sesama musisi, kapan masuk, kapan diam, kapan menahan diri agar irama tetap utuh.

Di Fribourg, semua latihan itu menemukan konteksnya. Di tengah kota Eropa yang dingin dan serba teratur, suara gamelan Bali dan gerak penari Kencana Mas menyatu mengalir. Saya duduk di antara para penggamel senior yang selama ini saya kagumi, menyaksikan para penari bergerak menginternalisasi wiraga, wirasa, wirama. Saya kian tersadar betapa panjang jalan belajar ini.

Hal yang sering luput dari cerita panggung adalah mereka yang bekerja di balik layar. Para LO kami bukan hanya profesional, tapi juga sangat humanis. Mereka tidak sekadar memastikan jadwal dan teknis berjalan, tapi benar-benar hadir sebagai penyangga emosi kami di negeri orang.

Ada satu cerita kecil yang bagi saya justru sangat membekas: Sisy, istri saya, tertinggal sepatu warna emasnya untuk parade. Kedengarannya sepele, tapi dalam dunia pertunjukan, detail adalah harga diri. Di tengah dinginnya Fribourg dan jadwal yang padat, situasi itu sempat bikin panik. Tapi 3 orang LO kami benar-benar turun tangan, mencari ke sana ke mari sampai sepatu itu akhirnya ditemukan. Di situ saya merasa: ini bukan cuma soal kerja, ini soal kepedulian.

Perjalanan ini membuat saya berpikir ulang tentang makna misi budaya. Bukan hanya tentang membawa tari dan musik Indonesia ke luar negeri, tapi tentang bagaimana kita membawa cara hidup: saling jaga, saling dengar, saling peduli, bahkan dalam hal-hal kecil seperti sepasang sepatu.

Fribourg tentunya akan selalu saya ingat sebagai kota kecil yang dingin dan indah. Tapi yang paling membekas justru proses di dalamnya: belajar gamelan dari para senior, mengiringi penari-penari hebat PPST Kencana Mas, dan mengalami langsung bagaimana tradisi bekerja sebagai ruang belajar kolektif.

Di antara nada gamelan, gerak tarian, dan langit Eropa, saya tidak merasa sedang mewakili siapa pun. Saya merasa sedang belajar menjadi bagian dari tradisi, bagian dari tim, dan bagian dari perjalanan panjang yang mengajarkan satu hal sederhana: bahwa seni, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita belajar hadir bersama orang lain.

Bagikan ini: