Puisi

Biru; Heptologi Puisi Bianglala (5)

Puisi

Biru; Heptologi Puisi Bianglala (5)

Biarkan pagi mengayun rindu
Kelak datang masanya
Kita membaur di angkasa raya
Kala jiwa saling lebur tawa melagu

Akhirnya bersua di suatu titik
Setelah darah harus tertumpah
Amarah meradang
Hanya karena beda asal, simbol tuhan dan warna kulit

Mungkin kau pernah lupa rasanya rindu
Damai dan adil hilang dalam kosa kata pikirmu
Maka, ketika politik bermain peran
Habis sudah genggam-genggam kasih

Seketika, semesta melukis kisah

Biru melangit, menjadi latar bianglala
Semoga menghanyutkan dendam
Segala gagal paham
Tentang rupa rupa Indonesia

Bagikan ini: