Opini

Menjaga Semangat Kartini

Opini

Menjaga Semangat Kartini

106183
http://www.arnapress.kz

Sehari sebelum 21 April linimasa instagram saya sudah diwarnai dengan unggahan foto-foto warganet berpakaian daerah. Aneka rangkaian kata indah dan penyemangat yang diambil dari surat-surat Kartini untuk sahabat penanya pun turut disadur sebagai status facebook. Berbagai acara dihelat di mana-mana. Ini semua dilakukan untuk memperingati Hari Kartini.

Euforia peringatan ini sah-sah saja dirayakan. Namun, seyogyanya jangan berhenti di satu hari ini saja. Ruh peringatan ini kudu menjadi bagian dalam perjuangan mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender, yang sudah diupayakan oleh Kartini, bahkan pada masa-masa sebelumnya.

Untuk itu api semangat Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan pekerjaan yang setara bagi perempuan perlu dijaga dan didaur ulang.

Sebelumnya, penting bagi kita kita para milenials ini untuk tahu apa yang menjadi buah pikiran Kartini dalam surat-suratnya. Kartini menuliskannya dalam bahasa Belanda kepada para sahabatnya; Estella H. Zeehandelaar, Nyonya Ovink-Soer, Nyonya RM Abendanon-Mandri, Tuan Prof Dr GK Anton, dll.

“Hukum dan pendidikan hanya milik laki-laki belaka,” tutur Kartini dalam salah satu suratnya.

Surat pertamanya pada Stella sudah tergambar gagasan emansipasi. Kartini menuliskan, ia sudah lama sekali menginginkan kebebasan yang selama ini tidak didapatkannya sebagai seorang perempuan. Sudah lama ia dikurung di dalam rumah. Dalam kegelapan ini, ia menemukan titik terang ketika membaca buku dan menuliskan surat pada teman-temannya.

Kartini memang tidak berjuang memikul senjata dan garang berorasi dalam berbagai aksi massa. Namun, ide dan gagasannya saat itu tak lekang dimakan waktu. Merayap maju merasuk alam-alam pikir hingga kini. Kartini membuktikan bahwa kata-kata layak dijadikan senjata untuk melawan ketidaksetaraan. Belenggu dan kesunyiannya menyuburkan ide dan gagasan perlawanannya, menembus zaman.

Melalui surat-suratnya, kata-kata kartini hidup, terbang bebas menyampaikan keluh kesah kondisi di sekitarnya. Kartini mengkritisi berbagai persoalan sosial yang melanda, mulai dari budaya patriarki yang menyudutkan hingga soal agama. Kartini dengan penuh semangat menceritakan kegelisahannya akan perkawinan dan poligami.

Jadi, di masa kekinian Kartini mesti dihadirkan lebih dari sekadar simbol-simbol yang melekat padanya saja – kebaya dan konde. Namun, semangat Kartini dijaga agar tetap terbakar membara pada jiwa-jiwa kita dalam melawan berbagai penindasan hak-hak perempuan.

Nah, membaca surat-surat Kartini jadi hal yang wajib kita lakukan di era kekinian. Surat-surat Kartini adalah salah satu amunisi perjuangan kita menatap masa depan yang setara.

Mari merayakan Hari Kartini, sembari menyalakan api semangatnya di dalam diri masing-masing.

Bagikan ini: